Selasa, 03 Mei 2011

5 KESALAHAN PRIA

Inilah 5 Kesalahan Pria Saat di Ranjang

Pria kerap tergesa-gesa saat melakukan adegan panas bersama pasangan. Alhasil, selalu saja ada kesalahan yang dilakukannya.
Inilah 5 Kesalahan Pria Saat di Ranjang
PRIA kerap tergesa-gesa saat melakukan adegan panas bersama pasangan. Alhasil, selalu saja ada kesalahan yang dilakukannya.
Soal urusan membangun gairah seksual, pria dan wanita memang membutuhkan waktu yang berbeda. Biasanya, wanita butuh waktu lebih lama dalam menghidupkan gairah seksualnya sebelum akhirnya siap menerima serangan. Sayangnya, pria kerap tak sabar menantinya. Tak heran, aksi orgasme palsu pun kerap muncul untuk memberikan kepuasan pada pasangannya. Jika dibiarkan, tentu ini akan menjadi bencana berkepanjangan bagi kehidupan seksual Anda.
Sebelum hal ini menghampiri, seorang seksolog terkemuka, Dr Yvonne K Fulbright memberikan bocoran lima kesalahan umum yang biasa dilakukan pria. Jika ingin mendapatkan kepuasan seksual yang maksimal, Anda para pria, sebaiknya hindari lima hal ini, seperti dilansir Mid Day.
Foreplay kurang maksimal
Waktu untuk memulai menghidupkan gairah pada wanita dirasa terlalu instan. Padahal, foreplay merupakan agenda pra-seks yang menjadi pengantar sebelum babak "intercourse" dilalui. Karenanya, kecukupan foreplay akan memengaruhi kualitas "intercourse" yang dilakukan.
Wanita sangat suka dirayu. Sementara seks adalah permainan pikiran. Untuk memenangkan gairah seksual wanita sebelum melakukan penyerangan, wanita tentu memerlukan stimulasi khusus. Wanita perlu mengetahui apa yang akan Anda lakukan malam ini terhadapnya. Stimulasi ini sangat efektif untuk menghidupkan gairahnya. Jadi, jangan pernah lewatkan sesi ini.
Jangan langsung masuk ke menu utama
Menyelam langsung ke alat genital bukanlah ide yang baik dan terbilang tergesa-gesa. Seorang wanita harus benar-benar terangsang sebelum Anda menjejalinya dengan permainan panas dalam beberapa waktu ke depan. Jadi, pastikan fokus di menit-menit awal pada seluruh tubuhnya dalam memberi rangsangan yakni dari kepala sampai kaki sebelum kemudian Anda menyerangnya.
Ingat klitoris
Banyak pria berpikir bahwa hasil orgasme seorang wanita dihasilkan dari proses penetrasi semata. Padahal, lebih dari 70 persen wanita mengalami orgasme klitoris. Jadi, jangan pernah remehkan bagian ini saat melakukan penetrasi padanya. Jika ingin memberikan rangsangan pada klitoris, pria dapat membuka uretra di mana ukurannya antar wanita berbeda satu sama lain.
Mengabaikan G-spot
Sebagai harta karun terpendam, pria kerap melupakan bagian ini. Padahal dengan merangsang bagian ini, puncak orgasme wanita kian menggebu. G-spot wanita dapat ditemukan di dinding depan Miss V. Posisinya bisa sedikit tinggi atau lebih rendah, atau posisinya lebih ke satu sisi daripada item lain yang berada di sekitarnya.
Jangan terlalu berorientasi pada tujuan
Tidak ada yang lebih menawan dari seorang manusia kecuali bermain. Jadi jangan terjebak pada diri Anda sendiri. Ingat, seksual adalah permainan antar dua belah pihak. Jadi eksplorasi seksual yang Anda mainkan pun sebaiknya ditujukan untuk kenikmatan Anda dan pasangan.

FANTASI SEKS

Bercinta bak Blue Film, Fantasi Seks Pria di Ranjang

Fantasi seks dipercaya dapat menghidupkan aksi di ranjang. Tak jarang, banyak orang menciptakan aktivitas yang satu ini saat bercinta dengan pasangannya.
Bercinta bak Blue Film, Fantasi Seks Pria di Ranjang
FANTASI seks dipercaya dapat menghidupkan aksi di ranjang. Tak jarang, banyak orang menciptakan aktivitas yang satu ini saat bercinta dengan pasangannya. Lantas, sejauh mana peran fantasi seks dalam kehidupan seksual?
Jangan dulu bahagia ketika hubungan bercinta yang Anda lakukan bersamanya berjalan lancar. Bisa jadi, dirinya dimabukkan dengan fantasi seksual yang memenuhi kepala. Jadi, meski jiwanya bersama Anda, tapi pikirannya melayang ke mana-mana.
Sesekali, mungkin Anda kerap merasakannya. Ya, sebagian besar wanita memang dapat merasakan perubahan mendadak yang ditunjukkan dalam bahasa tubuh pasangan, sementara lawan mainnya tetap melakukan aktivitas dengan Anda.
Bagi mereka, itu adalah pengalaman luar biasa. Lalu, apa yang sebenarnya memicu fantasi seksual saat berhubungan seks? Apakah ketidakpuasan menjadi alasan yang masuk akal ataukah ada mitos lain yang menjadi alasannya. Berikut ini ulasan yang dibeberkan Times of India.
Keinginan mencicipi seks bak film porno
Umumnya, pria ingin mencicipi seks bak para pemain film porno dan menyarankan sebuah gagasan tersebut pada Anda untuk melakukannya. Pasangan mungkin akan melabuhkan fantasi tertentu sambil melakukan tindakan fisik dengan Anda.
Dr Sk Sharma, piskolog klinis dan penasihat gaya hidup mengungkapkan, "Untuk beberapa hal, fantasi memang dapat menambah sensasi bercinta, sedangkan untuk orang lain sesi tersebut bisa jadi menambah nilai kebaruan."
Khayalan tentang seleb
"Saya sering membayangkan berhubungan seks dengan Marilyn Monroe dan Pamela Anderson," ungkap seorang bankir, Prateek.
Tapi, Prateek berpendapat bahwa pemikiran seperti itu hanya terbatas untuk kepentingan masturbasi dan tidak melekat saat berhubungan dengan pasangannya. Dr Sharma menyetujui hal tersebut.
"Berfantasi tentang selebriti adalah terapi alami, meskipun ada pula orang lain yang berfantasi tentang seseorang yang dikenal. Model berpakaian minim atau wanita yang tampil di film porno bisa selalu ada di benaknya saat bercinta dengan Anda. Itu akan menggairahkan dia dan memacunya agar lebih terangsang," tuturnya.
"Dalam arti yang positif, cara ini sebenarnya dapat meningkatkan kehidupan seks dan hubungan Anda. Pada kenyataannya, itu adalah cara yang aman sebagai pelepasan seksual dan bahkan kepuasan emosional," sambungnya.
Foreplay dan orgasme maksimal
Foreplay biasanya tidak dilakukan terlalu lama. Hal ini dimungkinkan bahwa pasangan dirundung kelelahan untuk berlama-lama pada sesi foreplay dan hanya menginginkan mencapai puncak orgasme pada malam itu.
Biasanya hal ini terjadi pada pasangan yang telah memiliki anak-anak atau memiliki beban stres di tempat kerja. Dalam skenario semacam itu, pasangan seks lebih aktif menemukan atau melampiaskan keinginannya dengan cara fantasi. Nafsu untuk orgasme yang lebih besar dapat mendorong seseorang untuk menikmati fantasi seksual.
Dr Rajendra Barve, psikolog mengatakan, "Fantasi seseorang dilakukan untuk memuaskan pasangannya di mana seringnya pasangan itu tidak cukup berminat untuk melayaninya sesuai dengan keinginannya. Alhasil, mereka pun memutuskan untuk membawanya pada saat mereka terlibat hubungan intim. Namun, tidak ada salahnya berkhayal tentang orang-orang secara acak. Fantasi tentang orang tertentu akan mencegahnya dari kecanduan."
Eksperimentasi
Sering kali ketika pasangan telah bersama-sama untuk jangka waktu yang agak panjang, mereka terbiasa untuk memenuhi kebutuhan seksual masing-masing. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memenuhi eksperimentasi sebagai pembaruan. Sayangnya, sesi eksperimentasi biasanya menjadi hal yang ditakutinya. Mereka mengikuti rutinitas tanpa berpikir bahwa untuk menuju kehidupan seks yang sehat semuanya mesti diubah.
Beberapa orang berpikir ketimbang tidak terpenuhi eksperimentasinya, menyerah pada fantasi seksual saat bercinta dengan pasangan mereka adalah solusi terbaik. Tapi Dr Madhumati Singh, psikolog senior berpikir bahwa berfantasi adalah tanda dari pikiran yang sehat dan kreatif.
"Banyak dari mereka berfantasi tentang berhubungan seks dengan perawan. Hal ini tampaknya menjadi pekerjaan rumah bahwa banyak pasangan yang menemukan kebahagiaan dalam berfantasi," ujarnya.
Dia bahkan merasa bahwa pikiran menyimpan orang lain saat berhubungan seks dapat mencairkan ketegangan hubungan. Bagaimana pun pikirannya memang untuk sejenak berkelana, tapi setelah itu dia pun akan kembali ke dunia nyata."
Lingerie cinta
Cara seorang wanita berpakaian memainkan peranan besar dalam memberikan gairah bagi pria. Tidak peduli seberapa tradisional pandangannya, dia ingin pasangannya terlihat seksi dan panas di ranjang. Kemudian menggoda dia dengan mengenakan lingerie renda hitam dan pria pun dibuat tak tahan untuk segera menyentuh wanita tersebut.
Dr Barve menjelaskan, "Saya penah dengar dari seorang pasangan suami istri yang tidak mampu memuaskan satu sama lain secara seksual. Suaminya benar-benar ingin melihat istrinya berpakaian bak penari erotis, kemudian merayunya di tempat tidur. Sayangnya, pengaturan tersebut tidak bekerja untuk waktu yang lama dan akhirnya istri

CONTOH SKRIPSI

BAB I

PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah masalah hidup dan kehidupan yang prosesnya berjalan bersama-sama. Bahkan keduannya merupakan proses dimana ada kehidupan disitu ada pendidikan. Pendidikan merupakan faktor penting yang dapat mematangkan kepribadian manusia disamping salah satu kebutuhan pokok yang sangat berfaedah bagi pengembangan potensi yang ada pada dirinya. Oleh karena itu, pemerintah selalu meningkatkan sarana dan prasarana serta kualitas pendidikan dengan menikmati pendidikan dan pengajaran sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1, “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran”.[1]

Di dalam proses pendidikan guru adalah termasuk salah satu faktor penentu kesuksesan tiap usaha pendidikan. Selain itu faktor lain yang menentukan keberhasilan itu adalah guru harus memiliki empati. Empati adalah respon afektif terhadap pengalaman emosional dan perasaan tertentu orang lain. Ika salah seorang siswa diketahui sedang mengalami kesulitan belaar, maka ia turut bersedih dan menunjukan simpati serta berusaha memberi jalan keluar. Keterbukaan psikologi sangat penting bagi guru mengingat posisinya sebagai anutan siswa. Selain posisi ada pula signifikan lain yang terkandung dalam keterbukaan psikologis guru.

Keterbukaan merupakan prasyarat yang perlu dimiliki guru untuk memahami pikira dan perasaan orang lain. Keterbukaan psikologis diperlukan juga untuk menciptakan suasana hubungan antara guru dan pribadi siswa yang harmonis sehingga mendorong motivasi siswa untuk mengembangkan dirinya serta mendalami pelajaran yang sedang dipelajarinya. [2]

Seorang guru yang memiliki empati sangat berpengaruh sekali terhadap motivasi belajar siswa dalam rangka mendalami objek belajarnya.Maka dari itu, di dalam membangun motivasi belajar siswa seorang guru bisa menunjukan perilaku demokratis dan tenggang rasa kepada semua siswa serta responstif terhadap kelas dalam artinya mau melihat masalah-masalah yang dimiliki oleh seluruh siswa.

Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar guru tidak hanya sekedar memenuhi tuntutan seorang guru pandai mengajar, tetapi juga kondisi siswa sebagai subjek belajar perlu dilihat faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana ia belajar karena agak sedikit dituntut dengan nalar sebuah proses belajar mengajar berjalan dengan sukses dengan hanya melihat posisi psikologis guru sebagai pengajar yang pandai semata tanpa melihat subyek belajar itu sendiri dalam hal ini siswa baik atau tidaknya ketika terjadi proses belajar mengajar.

Persoalannya sekarang adalah guru yang mempunyai empati dapat menarik motivasi siswa untuk belajar karena di dalam pendidikan yang dibutuhkan bukan hanya skill mengajar, melainkan juga seorang guru harus benar-benar memiliki keterbukaan psikologis yang maksimal. Seorang guru harus bisa menempatkan posisinya pada tempat yang tepat agar siswa yang sedang belajar termotivasi untuk mendalami pelajaran yang dibawakannya.

Tertarik dengan persoalan tersebut diatas maka dalam hal ini penulis mengungkap hubungan empati guru dengan motivasi siswa dalam sebuah penelitian yang berjudul “Pengaruh Empati Guru Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas VII SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap Tahun Pelajaran 2009 / 2010.”



B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana pengaruh antara empati guru dengan motivasi belajar peserta didik siswa Kelas VII SMP Al Hidayah Sidareja ?

2.      Bagaimana Kualitas empati guru lingkungan SMP Al Hidayah Sidareja.

3.      Bagaimana Pengaruh empati guru terhadap motivasi belajar siswa di Sekolah Menengah Pertama SMP Al Hidayah Sidareja.



C.    Tujuan Penelitian

Secara eksplisit tujuan penelitian adalah :

1.      Untuk mengetahui kualitas empati guru lingkungan SMP Al Hidayah Sidareja.

2.      Untuk mengetahui bagaimana motivasi belajar siswa SMP Al Hidayah Sidareja tahun pelajaran 2009 – 2010.

3.      Untuk mengetahui apakah ada pengaruh empati guru terhadap motivasi belajar siswa di Sekolah Menengah Pertama SMP Al Hidayah Sidareja.



D.    Kerangka Pemikiran

Agar tidak terjadi kesalah pahaman terhadap pengertian judul yang penulis kehendaki serta untuk menghindari kemungkinan adanya penafsiran atau interprestasi yang tidak dikehendaki penulis. Berikut kerangka pemikiran yang sesuai dengan judul skripsi ini, yakni :

1.      Pengaruh

Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda dan sebagainya) yang berkuasa atau berkekuatan (gaib dan sebagainya) [3].Dalam hal ini pengaruh sebagai hal sebab akibat.

2.      Empati Guru

Empati adalah keadaan yang bersifat terbatas dan sementara dimana seseorang dapat menghayati alam, perasaan dan pengalaman orang lain. [4]

Guru adalah pendidik bagi peserta didik. Dengan kata lain guru dalam tenaga pengajar yang pada jenjang pendidikan dasar dan menengah tersebut dan pada jenjang pendidikan tinggi dinamakan dosen. [5]Jadi Empati guru adalah respon afektif seorang guru terhadap pengalaman emosional dan perasaan yang terjadi pada siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan kata lain sikap belajar siswa dapat terbaca guru yang menjadikan proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.

3.      Motivasi Belajar

Motivasi adalah pendorong suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia bergerak hatinya untuk melakukan sesuatu mencapai hasil atau tujuan tertentu. [6]

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. [7]

            Jadi motivasi belajar adalah pendorong suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku siswa agar ia bergerak hatinya untuk melakukan sesuatu sehingga mencapai keberhasilan dalam proses belajar. Jadi Motivasi belajar adalah pendorong suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.

4.      Sekolah Menengah Pertama Al Hidayah  Tinggarjaya Sidareja

Sekolah Menengah Pertama SMP Al Hidayah Sidareja adalah lembaga pendidikan formal yang terletak di desa Tinggarjaya Kecamatan Kabupaten Cilacap.

Jadi, kesimpulannya dari penegasan judul diatas adalah suatu penelitian yang akan mengungkap bagaimana layanan empati guru terhadap motivasi belajar siswa di Sekolah Menengah Pertama Al Hidayah Tinggarjaya Kecamatan Sidareja Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2009-2010 dalam proses belajar mengajar.



E.     Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban bersifat sementara dari permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data-data yang terkumpul. [8]Untuk memecahkan permasalahan diatas, penulis mengadakan penelitian dengan mengemukakan hipotesis sebagai berikut :

1.      Hipotesis Kerja (Hi)

Hipotesis kerja penelitian ini adalah “Adanya pengaruh empati guru SMP Al Hidayah Tinggarjaya terhadap motivasi belajar siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Al Hidayah Tinggarjaya tahun pelajaran 2009/2010”.

2.      Hipotesis Nihil (Ho)

“Tidak adanya pengaruh empati guru SMP Al Hidayah Tinggarjaya terhadap motivasi belajar siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Tinggarjaya tahun pelajaran 2009-2010”.

Dengan demikian menjadi ketentuan jika hipotesis nihil terbukti maka hipotesis kerja ditolak yang berarti tidak adanya empati guru SMP Al Hidayah Tinggarjaya terhadap motivasi belajar siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama  SMP Al Hidayah Tinggarjaya tahun pelajaran 2009/ 2010.



F.     Metode Penelitian

Sebelum penulisan kemukakan metode penelitian terlebih penulis uraikan tentang.

1.      Lokasi

Lokasi penelitian yang diambil penulis adalah seluruh SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap,dengan pertimbangan sebagai berikut :

a.       SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap mempunyai tenaga pengajar/ guru yang sudah tua, namun masih memiliki dedikasi yang tinggi, bertanggungjawab dalam bekerja, berwibawa dan mempunyai kedudukan di luar sekolah. Dengan ini menjadikan dasar dalam melakukan pengamatan yang sesuai dengan rumusan penelitian ini.

b.      Lokasi SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap dekat dengan tempat tinggal penulis, sehingga dapat memudahkan pengamatan dalam penelitian ini.

c.       Sepengetahuan penulis SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap belum pernah diadakan penelitian semacam ini.

2.      Subyek Penelitian

Dalam dunia subyek peelitian merupakan masalah pokok yang perlu diperhatikan karena sanat dipengaruhi oleh cara pengambilan subyek. Hal-hal yang berkaita dengan masalah subyek penelitian ini meliputi penafsiran terhadap sifat populasi. Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga. [9]Yang akan diteliti dan penentuan besarnya prosentase sample dan dari sejumlah populasi yang ada, serta cara yang akan ditempauh dalam pengambilan sampel.

Dalam penelitian ini yang penulis jadikan populasi adalah siswa kelas VII SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap 2009/ 2010.

         Secara keseluruhan jumlah siswa kelas VII SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap adalah 35 anak, yang terdiri dari 14 laki-laki dan 21 perempuan.

         Melihat jumlah populasi ada 35 siswa, maka penulis meneliti secara populasi. Sebagai pedoman Suharsini Arikunto yang mengemukakan bahwa :

“Apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semuanya sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika subyeknya jumlahnya besar dapat diambil antara 10 – 15 % atau 20 – 25 % atau lebih. [10]   

3.      Jenis Penelitian

Sesuai dengan pendapat Suharsini bahwa apabila subyeknya kurang dari 100 maka diambil semuanya,maka disebut penelitian populasi. Dari jumlah subjek penelitian ini adalah 35 siswa maka jenis penelitian ini adalah penelitian populasi.

4.      Metode Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode sebagai berikut :

a.       Dokumentasi

Dokumentasi diarahkan sebagai barang-barang tertulis buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen-notulen rapat dan sebagainya.[11] Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh informasi yang bersumber pada tulisan seperti buku-buku, dokumen, dan sebagainya tentang proses belajar di SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap.

b.      Metode Angket

Metode angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui. [12]Metode ini penulis gunakan untuk mencari tingkat pengaruh empati guru terhadap motivasi belajar berdasarkan pernyataan yang penulis ajukan terhadap siswa kelas VII SMP Al Hidayah Tinggarjaya  Sidareja Cilacap.

c.       Observasi

Observasi adalah metode penelitian dengan yang dicatat dengan sistematis fenomena-fenomena yang diteliti.[13] Metode ini penulis gunakan untuk mencari gejala atau kejadian-kejadian yang berlangsung selama penelitian di SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap.

d.      Interview

Interview adalah metode pengumpulan data dengan Tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berdasarkan tujuan penyelidikan. [14]

Bentuk interview yang digunakan adalah semi structured, metode ini digunakan untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan tentang pengaruh yang signifikan antara empati guru dengan motivasi belajar siswa kelas VII SMP Al Hidayah Tinggarjaya  Sidareja.

5.      Metode Analisi Data

Untuk menguji signifikan frekuensi yang diobservasikan dengan frekuensi yang diharapkan, penulis menggunakan analisa regresi dengan rumus sebagai berikut :

                        Se=

            x          = nilai variabel Independen (bebas)

            y          = nilai variabel Dependen (terikat)

            b          = Koefisien regresi (b)

            a          = Koefisien regresi ( a )

            n          = jumlah pasangan pengamatan. [15]



G.    Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang pokok masalah yang ada dalam skripsi ini secara garis besar penyusunannya terbagi data beberapa bagian. Bagian depan adalah halaman judul, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan, motto, persembahan, kata pengantar dan daftar isi.

Kemudian bagian tengah merupakan bagian penjelasan mengenai isi terkandung dalam skripsi ini, terbagi ke dalam lima bab. Bab pertama adalah bagian Pendahuluan, yang membicarakan tentang latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, penegasan istilah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, hipotesis, metode penelitian, sistematika penyusunan.

Bab dua adalah bagian kajian pustaka, yakni mengenai Empati guru dan motivasi belajar siswa. Bab ini terbagi menjadi dua bagian bagian pertama membicarakan empati guru yang meliputi pengertian empati dan guru, fungsi empati, pengertian mengajar serta hal yang mempengaruhi pengajaran. Bagian kedua yakni membicarakan motivasi belajar, yang meliputi pengertian motivasi, macam-macam motivasi dan bentuk-bentuk motivasi.

Bab Tiga adalah bagian laporan pelaksanaan penelitian yang terdiri dari dua sub bagian. Bagian pertama tentang gambaran umum lokasi penelitian, yang terdiri dari sejarah singkat berdirinya, letak geografis dan struktur organisasi. Bagian kedua tentang penyajian data meliputi data guru dan karyawan, data keadaan siswa, data sarana dan prasarana serta data jawaban dan skor angket penelitian.serta membahas analisis data, yang terdiri atas analisa data statistik dan uji hipotesis.

Bab empat sebagai bagian terakhir atau bagian Penutup, yang merupakan bagian kesimpulan, saran-saran dan kata penutup.

Kemudian sebagai pelengkap penulis cantumkan daftar pustaka, daftar riwayat hidup dan beberapa lampiran.



[1] RI,Undang-Undang Dasar 1945, CV Aneka Ilmu Semarang hlm 1
[2] Muhibin Syah,Psikologi Pendidikan,DIKNAS,1995,hlm 229.
[3] Depdikbud, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, hlm 731
[4] Ensiklopedi Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2001, hlm 134
[5] Adi Candra, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Surabaya, hlm 128
[6] Slameto, Op Cit hlm 2.
[7] Ngaliman Purwanto, Psikologi Pendidikan, Rosdakarya, Bandung, hlm 71.
[8] M. Rahman, Strategi dan Langkah-Langkah Penelitian, Semarang Press. 1993. hlm 57
[9] Masri Singaribun, Op.Cit, hlm 152
[10] Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, 1993, Jakarta, Rineka
    Cipta, hlm 107.
[11] Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,1993, hlm 126
[12] Khalid Narbuko,Metodelogi Penelitian Sosial, Semarang, 1988, hlm. 67
[13] Ibid
[14] Ibid
[15] Saifudin Azwar, MA, Metode Penelitian, Pustaka Pelajar, Bandung, 2003, hlm 98.

Minggu, 01 Mei 2011

CONTOH PROPOSAL SKRIPSI




A.    Judul
“Pengaruh Empati Guru Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas VII SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap Tahun Pelajaran 2009 / 2010.”
B.     Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah masalah hidup dan kehidupan yang prosesnya berjalan bersama-sama. Bahkan keduannya merupakan proses dimana ada kehidupan disitu ada pendidikan. Pendidikan merupakan faktor penting yang dapat mematangkan kepribadian manusia disamping salah satu kebutuhan pokok yang sangat berfaedah bagi pengembangan potensi yang ada pada dirinya. Oleh karena itu, pemerintah selalu meningkatkan sarana dan prasarana serta kualitas pendidikan dengan menikmati pendidikan dan pengajaran sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1, “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran”.[1]
      Di dalam proses pendidikan guru adalah termasuk salah satu factor penentu kesuksesan tiap usaha pendidikan. Selain itu faktor lain yang menentukan keberhasilan itu adalah guru harus memiliki empati. Empati adalah respon afektif terhadap pengalaman emosional dan perasaan tertentu orang lain. Ika salah seorang siswa diketahui sedang mengalami kesulitan belaar, maka ia turut bersedih dan menunjukan simpati serta berusaha memberi jalan keluar. Keterbukaan psikologi sangat penting bagi guru

 mengingat posisinya sebagai anutan siswa. Selain posisi ada pula signifikan lain yang terkandung dalam keterbukaan psikologis guru.
      Keterbukaan merupakan prasyarat yang perlu dimiliki guru untuk memahami pikira dan perasaan orang lain. Keterbukaan psikologis diperlukan juga untuk menciptakan suasana hubungan antara guru dan pribadi siswa yang harmonis sehingga mendorong motivasi siswa untuk mengembangkan dirinya serta mendalami pelajaran yang sedang dipelajarinya. [2]
      Seorang guru yang memiliki empati sangat berpengaruh sekali terhadap motivasi belajar siswa dalam rangka mendalami objek belajarnya.Maka dari itu, di dalam membangun motivasi belajar siswa seorang guru bisa menunjukan perilaku demokratis dan tenggang rasa kepada semua siswa serta responstif terhadap kelas dalam artinya mau melihat masalah-masalah yang dimiliki oleh seluruh siswa.
      Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar guru tidak hanya sekedar memenuhi tuntutan seorang guru pandai mengajar, tetapi juga kondisi siswa sebagai subjek belajar perlu dilihat faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana ia belajar karena agak sedikit dituntut dengan nalar sebuah proses belajar mengajar berjalan dengan sukses dengan hanya melihat posisi psikologis guru sebagai pengajar yang pandai semata tanpa melihat subyek belajar itu sendiri dalam hal ini siswa baik atau tidaknya ketika terjadi proses belajar mengajar.
      Persoalannya sekarang adalah guru yang mempunyai empati dapat menarik motivasi siswa untuk belajar karena di dalam pendidikan yang dibutuhkan bukan hanya skill mengajar, melainkan juga seorang guru harus benar-benar memiliki keterbukaan psikologis yang maksimal. Seorang guru harus bisa menempatkan posisinya pada tempat yang tepat agar siswa yang sedang belajar termotivasi untuk mendalami pelajaran yang dibawakannya.
      Tertarik dengan persoalan tersebut diatas maka dalam hal ini penulis mengungkap hubungan empati guru dengan motivasi siswa dalam sebuah penelitian yang berjudul “Pengaruh Empati Guru Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas VII SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap Tahun Pelajaran 2009 / 2010.”

C.    Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh antara empati guru dengan motivasi belajar peserta didik siswa Kelas VII SMP Al Hidayah Sidareja ?

D.    Tujuan Penelitian
Secara eksplisit tujuan penelitian adalah :
1.      Untuk mengetahui kualitas empati guru lingkungan SMP Al Hidayah Sidareja.
2.      Untuk mengetahui bagaimana motivasi belajar siswa SMP Al Hidayah Sidareja tahun pelajaran 2009 – 2010.
3.      Untuk mengetahui apakah ada pengaruh empati guru terhadap motivasi belajar siswa di Sekolah Menengah Pertama SMP Al Hidayah Sidareja.
4.      Untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar kesarjanaan pendidikan agama Islam STAIMA.
5.      Untuk merealisasikan Tri Darma Perguruan Tinggi di bidang penelitian.

E.     Kerangka Pemikiran
Agar tidak terjadi kesalah pahaman terhadap pengertian judul yang penulis kehendaki serta untuk menghindari kemungkinan adanya penafsiran atau interprestasi yang tidak dikehendaki penulis. Berikut kerangka pemikiran yang sesuai dengan judul skripsi ini, yakni :
1.      Pengaruh
Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda dan sebagainya) yang berkuasa atau berkekuatan (gaib dan sebagainya) [3].Dalam hal ini pengaruh sebagai hal sebab akibat.
2.      Empati Guru
Empati adalah keadaan yang bersifat terbatas dan sementara dimana seseorang dapat menghayati alam, perasaan dan pengalaman orang lain. [4]
Guru adalah pendidik bagi peserta didik. Dengan kata lain guru dalam tenaga pengajar yang pada jenjang pendidikan dasar dan menengah tersebut dan pada jenjang pendidikan tinggi dinamakan dosen. [5]Jadi Empati guru adalah respon afektif seorang guru terhadap pengalaman emosional dan perasaan yang terjadi pada siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan kata lain sikap belajar siswa dapat terbaca guru yang menjadikan proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.

3.      Motivasi Belajar
Motivasi adalah pendorong suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia bergerak hatinya untuk melakukan sesuatu mencapai hasil atau tujuan tertentu. [6]
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. [7]
            Jadi motivasi belajar adalah pendorong suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku siswa agar ia bergerak hatinya untuk melakukan sesuatu sehingga mencapai keberhasilan dalam proses belajar. Jadi Motivasi belajar adalah pendorong suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.




4.      Sekolah Menengah Pertama Al Hidayah  Tinggarjaya Sidareja
Sekolah Menengah Pertama SMP Al Hidayah Sidareja adalah lembaga pendidikan formal yang terletak di desa Tinggarjaya Kecamatan Kabupaten Cilacap.
Jadi, kesimpulannya dari penegasan judul diatas adalah suatu penelitian yang akan mengungkap bagaimana layanan empati guru terhadap motivasi belajar siswa di Sekolah Menengah Pertama Al Hidayah Tinggarjaya Kecamatan Sidareja Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2009-2010 dalam proses belajar mengajar.

F.     Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban bersifat sementara dari permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data-data yang terkumpul. [8]Untuk memecahkan permasalahan diatas, penulis mengadakan penelitian dengan mengemukakan hipotesis sebagai berikut :
1.      Hipotesis Kerja (Hi)
Hipotesis kerja penelitian ini adalah “Adanya pengaruh empati guru SMP Al Hidayah Tinggarjaya terhadap motivasi belajar siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Al Hidayah Tinggarjaya tahun pelajaran 2009/2010”.
2.      Hipotesis Nihil (Ho)
“Tidak adanya pengaruh empati guru SMP Al Hidayah Tinggarjaya terhadap motivasi belajar siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Tinggarjaya tahun pelajaran 2009-2010”.
Dengan demikian menjadi ketentuan jika hipotesis nihil terbukti maka hipotesis kerja ditolak yang berarti tidak adanya empati guru SMP Al Hidayah Tinggarjaya terhadap motivasi belajar siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama  SMP Al Hidayah Tinggarjaya tahun pelajaran 2009/ 2010.

G.    Metode Penelitian
Sebelum penulisan kemukakan metode penelitian terlebih penulis uraikan tentang.
1.      Lokasi
Lokasi penelitian yang diambil penulis adalah seluruh SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap,dengan pertimbangan sebagai berikut :
a.       SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap mempunyai tenaga pengajar/ guru yang sudah tua, namun masih memiliki dedikasi yang tinggi, bertanggungjawab dalam bekerja, berwibawa dan mempunyai kedudukan di luar sekolah. Dengan ini menjadikan dasar dalam melakukan pengamatan yang sesuai dengan rumusan penelitian ini.
b.      Lokasi SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap dekat dengan tempat tinggal penulis, sehingga dapat memudahkan pengamatan dalam penelitian ini.
c.       Sepengetahuan penulis SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap belum pernah diadakan penelitian semacam ini.
2.      Subyek Penelitian
Dalam dunia subyek peelitian merupakan masalah pokok yang perlu diperhatikan karena sanat dipengaruhi oleh cara pengambilan subyek. Hal-hal yang berkaita dengan masalah subyek penelitian ini meliputi penafsiran terhadap sifat populasi. Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga. [9]Yang akan diteliti dan penentuan besarnya prosentase sample dan dari sejumlah populasi yang ada, serta cara yang akan ditempauh dalam pengambilan sampel.
         Dalam penelitian ini yang penulis jadikan populasi adalah siswa kelas VII SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap 2009/ 2010.
         Secara keseluruhan jumlah siswa kelas VII SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap adalah 35 anak, yang terdiri dari 14 laki-laki dan 21 perempuan.
         Melihat jumlah populasi ada 35 siswa, maka penulis meneliti secara populasi. Sebagai pedoman Suharsini Arikunto yang mengemukakan bahwa :
“Apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semuanya sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika subyeknya jumlahnya besar dapat diambil antara 10 – 15 % atau 20 – 25 % atau lebih. [10]   
3.      Jenis Penelitian
Sesuai dengan pendapat Suharsini bahwa apabila subyeknya kurang dari 100 maka diambil semuanya,maka disebut penelitian populasi. Dari jumlah subjek penelitian ini adalah 35 siswa maka jenis penelitian ini adalah penelitian populasi.
4.      Metode Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode sebagai berikut :
a.       Dokumentasi
Dokumentasi diarahkan sebagai barang-barang tertulis buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen-notulen rapat dan sebagainya.[11] Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh informasi yang bersumber pada tulisan seperti buku-buku, dokumen, dan sebagainya tentang proses belajar di SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap.
b.      Metode Angket
Metode angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui. [12]Metode ini penulis gunakan untuk mencari tingkat pengaruh empati guru terhadap motivasi belajar berdasarkan pernyataan yang penulis ajukan terhadap siswa kelas VII SMP Al Hidayah Tinggarjaya  Sidareja Cilacap.
c.       Observasi
Observasi adalah metode penelitian dengan yang dicatat dengan sistematis fenomena-fenomena yang diteliti.[13] Metode ini penulis gunakan untuk mencari gejala atau kejadian-kejadian yang berlangsung selama penelitian di SMP Al Hidayah Sidareja Cilacap.
d.      Interview
Interview adalah metode pengumpulan data dengan Tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berdasarkan tujuan penyelidikan. [14]
Bentuk interview yang digunakan adalah semi structured, metode ini digunakan untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan tentang pengaruh yang signifikan antara empati guru dengan motivasi belajar siswa kelas VII SMP Al Hidayah Tinggarjaya  Sidareja.

5.      Metode Analisi Data
Untuk menguji signifikan frekuensi yang diobservasikan dengan frekuensi yang diharapkan, penulis menggunakan analisa regresi dengan rumus sebagai berikut :
                        Se=
            x          = nilai variabel Independen (bebas)
            y          = nilai variabel Dependen (terikat)
            b          = Koefisien regresi (b)
            a          = Koefisien regresi ( a )
            n          = jumlah pasangan pengamatan. [15]

H.    Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang pokok masalah yang ada dalam skripsi ini secara garis besar penyusunannya terbagi data beberapa bagian. Bagian depan adalah halaman judul, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan, motto, persembahan, kata pengantar dan daftar isi.
Kemudian bagian tengah merupakan bagian penjelasan mengenai isi terkandung dalam skripsi ini, terbagi ke dalam lima bab. Bab pertama adalah bagian Pendahuluan, yang membicarakan tentang latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, penegasan istilah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, hipotesis, metode penelitian, sistematika penyusunan.
Bab dua adalah bagian kajian pustaka, yakni mengenai Empati guru dan motivasi belajar siswa. Bab ini terbagi menjadi dua bagian bagian pertama membicarakan empati guru yang meliputi pengertian empati dan guru, fungsi empati, pengertian mengajar serta hal yang mempengaruhi pengajaran. Bagian kedua yakni membicarakan motivasi belajar, yang meliputi pengertian motivasi, macam-macam motivasi dan bentuk-bentuk motivasi.
Bab Tiga adalah bagian laporan pelaksanaan penelitian yang terdiri dari dua sub bagian. Bagian pertama tentang gambaran umum lokasi penelitian, yang terdiri dari sejarah singkat berdirinya, letak geografis dan struktur organisasi. Bagian kedua tentang penyajian data meliputi data guru dan karyawan, data keadaan siswa, data sarana dan prasarana serta data jawaban dan skor angket penelitian.serta membahas analisis data, yang terdiri atas analisa data statistik dan uji hipotesis.
Bab empat sebagai bagian terakhir atau bagian Penutup, yang merupakan bagian kesimpulan, saran-saran dan kata penutup.
Kemudian sebagai pelengkap penulis cantumkan daftar pustaka, daftar riwayat hidup dan beberapa lampiran.


I.       Time Schedule
No
Uraian Kegiatan
Alokasi Waktu Penelitian
Ket
Des
Jan
Pebr
Mart
Apr
Mei
Juni

1
Inventarisasi Data
√







2
Mengumpulkan Data
√







3
Meyeleksi Data

√






4
Analisa Data


√
√




5
Menyimpulkan Hasil Penelitian




√
√


6
Melaporkan Data






√


J.      Kerangka Skripsi
Lembar Judul
Lembar Persetujuan Pembimbing
Lembar Pengesahan
Motto
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel
BAB I       PENDAHULUAN   
A.    Latar Belakang
B.     Rumusan Masalah
C.     Tujuan Masalah
D.    Kerangka Pemikiran
E.     Hipotesis
F.      Metode Penelitian
G.    Sistematika Penulisan
H.    Time Schedule
I.       Kerangka Skripsi
BAB II EMPATI GURU DAN MOTIVASI BELAJAR
A.    Empati Guru
1.      Pengertian Empati
2.      Pengertian Guru
3.      Fungsi Empati
4.      Pengertian Mengajar
5.      Hal yang mempengaruhi Pengajaran
B.     Motivasi Belajar
1.      Pengertian Motivasi
2.      Macam-macam motifasi
3.      Bentuk-bentuk Motivasi
BAB III LAPORAN PELAKSANAAN PENELITIAN
A.    Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1.      Sejarah Singkat Berdirinya
2.      Letak Georgafis
3.      Struktur Organisasi
B.     Penyaian Data
1.      Data Guru / Karyawan
2.      Keadaan Siswa
3.      Sarana Dan Prasarana
4.      Data Jawaban dan Skor Angket Penelitian
5.   Analisis Data Statistik
6.   Uji Hipotesis
BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran-saran
C.     Kata Penutup
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Lampiran-lampiran








DAFTAR PUSTAKA

Al Ghozali, Imam. Ihya ‘Ulumaddin, Juz I, Darul Ikhyail  Kutubil Arabiyah, Mesir, tt.

Ali, Muh. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Al-Gensindo. Bandung. tt.

Arikunto, Suharsini. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Azwar, Saifudin. 2003. Metode penelitian. Pustaka Pelajar. Bandung.
Candra, Adi. Kamus Lengkap Inggris-Indonesia. Surabaya
Candra, Ardi. Kamus Lengkap Inggris – Indonesia. CV Arloka Surabaya
Depag RI. Al Qur,an dan Terjemahannya. CV Alwaah. Semarang
Depag RI. 2001. Metodologi PAI, Jakarta,
Depag RI, Metodologi Pendidikan, Jakarta, 2001.
Ensiklopedi Indonesia. 1992. Iktisar Baru. Jakarta. hlm 1924.
Hamalik, Oemar. 2003. Pendidikan Guru, Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Bina Aksara. Jakarta.

Ihsan, Hamdani., Ihsan, Fuad. 1998. Filsafat Pendidikan Islam. CV Pustaka Setia, Bandung.

Moeliono, Anton M. 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.

Narbuko, Khalid. 1988. Metodologi Penelitian Sosial. Semarang.
Nawawi, Hadari. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas Sebagai Lembaga Pendidikan. Gunung Agung. Jakarta. 185.

Subroto, B.Suryo. Beberapa Aspek Pendidikan. Rineka Cipt. Jakarta
Syah, Muhibin. 1995. Psikologi Pendidikan. DIKNAS.
Pius, A Partanto., M. Dahlan Al-Barry. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Arloka. Surabaya.
Purwanto, M. Ngalim. 1990. Psikologi Pendidik. Depdikbud RI.
Purwanto, Ngaliman. Psikologi Pendidikan. Rosdakarya. Bandung.
Rahman, M. 1993. Strategi dan Langkah-langkah Penelitian. Semarang Press.
RI, Undang-Undang Dasar. 1945. CV Aneka Ilmu Semarang.
Sahestian, Piet A. 2003. Profil Pendidikan Profesional. Andi Offset. Kompetensi, Bina Aksara. Jakarta.

Slameto. 1987..Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi. Rineka Cipta. Salatiga

Subroto. 1989. Dasar-dasar Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta.
Subroto, Suryo. 1989. Beberapa Aspek Dasar-dasar Pedidikan. Rineka Cipta. Jakarta

Subroto, Suryo. 1989. Dasar-dasar Kependidikan. Rineka Cipta. Jakarta.
Syam, M. Noor. 1980. Pengajaran Dasar-dasar Pendidikan. Usaha Nasional. Surabaya.


[1] RI,Undang-Undang Dasar 1945, CV Aneka Ilmu Semarang hlm 1
[2] Muhibin Syah,Psikologi Pendidikan,DIKNAS,1995,hlm 229.
[3] Depdikbud, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, hlm 731
[4] Ensiklopedi Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2001, hlm 134
[5] Adi Candra, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Surabaya, hlm 128
[6] Slameto, Op Cit hlm 2.
[7] Ngaliman Purwanto, Psikologi Pendidikan, Rosdakarya, Bandung, hlm 71.
[8] M. Rahman, Strategi dan Langkah-Langkah Penelitian, Semarang Press. 1993. hlm 57
[9] Masri Singaribun, Op.Cit, hlm 152
[10] Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, 1993, Jakarta, Rineka
    Cipta, hlm 107.
[11] Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,1993, hlm 126
[12] Khalid Narbuko,Metodelogi Penelitian Sosial, Semarang, 1988, hlm. 67
[13] Ibid
[14] Ibid
[15] Saifudin Azwar, MA, Metode Penelitian, Pustaka Pelajar, Bandung, 2003, hlm 98.